Telphone: 0000

Email: admin@indohse.web.id

CB Online

Keselamatan Kerja

Written by Admin

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Bagi pekerja di bidang industri petrokimia dan Migas, beraktifitas di area ruang terbatas (confined space), proses bahan berbahaya dan beracun akan memerlukan gas detector sebagai alat bantu kerja.Gas detector baik yang berupa multi gas detector ( misalnya mendeteksi LEL, O2, H2S) dan personal detector (H2S, atau gas specific lainnya)diperlukan sebagai indikator keselamatan pekerja terhadap kemungkinan kebakaran, keracunan gas ataupun

kekurangan oksigen. Aktivitas pekerjaan misalnya berupa:

  1. Pemeriksaan bagian dalam bejana tekan.
  2. Perbaikan internal tanki.
  3. Pemeriksaan dan perbaikan terowongan/kanal air.
  4. Bekerja dilokasi proses yang terdapat unsur gas beracun.
  5. Pekerjaan panas pada atmosfir mudah terbakar, dll.

Melihat besarnya dampak, perlu diketahui bagaimana pemilihan, penggunaan, dan pemeliharaan alat tersebut. Dalam pemeliharaan keandalan gas detector, kegiatan bump test dan kalibrasi harus dilakukan untuk memastikan kesiapan alat untuk dipakai. Penting bagi kita selaku fasilitator di kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja untuk memahami bump test, calibration check, full calibration dan frekuensi dilakukannya hal tersebut.

  1. Bump test ( function check)--> adalah pemeriksaan fungsi secara kualitatif dimana gas uji dilewatkan kepada sensor pada konsentrasi dan waktu paparan tertentu untuk mengaktifkan indikator alarm pada minimal setting ( alarm pada konsentrasi terendah). Tujuan uji ini untuk memastikan bahwa gas dapat mencapai sensor  dan alarm dapat teraktifkan. Ini biasanya tergantung pada waktu respon sensor atau tingkat minimum respon dicapai, seperti 80% dari konsentrasi gas diterapkan. Catatan cek ini tidak dimaksudkan untuk menyediakan ukuran akurasi kalibrasi.
  2. Calibration check --> adalah uji quantitatif menggunakan gas uji untuk memperlihatkan bahwa sensor dan alarm meresponse sesuai dengan desain dari pabrik. Hal ini biasanya ± 10-20% dari konsentrasi gas uji diterapkan kecuali ditentukan lain oleh produsen, kebijakan internal perusahaan, atau badan pengawas.
  3. Full calibration --> penyesuaian response sensor untuk menyamakan  dengan nilai yang diinginkan dengan menggunakan gas uji. Ini dilakukan dengan sesuai dengan instruksi pabrikan/produsen.


Kapan ketiga hal tersebut kita lakukan????

  1. Bumpt test atau Calibration check dilakukan setiap hari sebelum digunakan sesuai dengan instruksi pabrikan/produsen. Jika ternyata gagal dalam dalam uji ini, Full calibration harus dilakukan sebelum digunakan kembali.
  2. Full calibration dilakukan pada rentang waktu tertentu sesuai dengan instruksi dari produsen/pabrikan, peraturan perusahaan ataupun dari badan regulator. Dari beberapa literature yang penulis baca dan praktekkan, kalibrasi setiap 6 bulan.
  3. Validasi operasional suatu instrumen harus dilakukan jika salah satu kondisi atau peristiwa telah terjadi selama penggunaan.
    • Paparan kronis atau digunakan pada kondisi lingkungan yang extrim seperti temperature dan kelembaban yang tinggi/rendah, partikulat yang tinggi.
    • Konsentrasi paparan yang melebihi  pembacaan alat.
    • Terpapar pada gas yang dapat merusak sensor ( LEL sensor berupa, hidrokarbon terhalogenasi dan gas sulfida), solvent ataupun bahan kimia korosif.
    • Jatuh, terkena vibrasi, terendam cairan.
    • Setting alat dirubah.
    • Perubahan kondisi lokasi kerja yang memungkinkan adanya efek lanjutan terhadap sensor.
    • Kondisi lainnya yang dapat memberikan efek tertentu pada performa alat.


Dengan kita memperhatikan hal-hal tersebut diatas, tentunya bekerja diarea ruang terbatas ataupun di area proses berbahaya akan lebih aman. Apakah alat detector anda sudah dilakukan hal serupa??? 


*) referensi.
1. ISEA statement on validation of operation for direct reading portable gas detector 2010.

Add comment


Security code
Refresh

Category: