Telphone: 0000

Email: admin@indohse.web.id

CB Online

Keselamatan Kerja

Written by Admin

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pekerjaan sipil di konstruksi beruapa  earth  contour modification/modifikasi permukaan tanah seperti perataan tanah, pengambilan tanah urukan, penggalian dam, penataan alur sungai dll. Pekerjaan ini  memberikan resiko pada pekerja

dan peralatan yang digunakan berupa adanya longsor. Hal ini dapat terjadi karena adanya kegiatan diarea sekitar penggalian yaitu lalu lintas kendaran berat (dump truck, excavator, vibro roler, dll), selain itu adanya air yang membasahi tanah karena hujan maupun adanya air yang masuk kelokasi penggalian (air sungai).

Antisipasi bahaya longsor  yang dilakukan untuk area penggalian yang luas cocok dengan menggunakan metode sloping. Sloping/ kemiringan adalah metode pemotongan tanah dengan membentuk sudut kemiringan tertentu yang didasarkan tipe tanah untuk mendapatkan lereng tanah yang stabil. Sudut kemiringan dinding tanah yang dibuat diharapkan memiliki tingkat stabilitas yang cukup untuk menahan berat tanah itu sendiri serta beban yang ada diatasnya (getaran akibat lalu lintas alat berat). Dengan kemampuannya tersebut kemungkinan akan longsor menjadi terkendali.

Bagaimana membuat tingkat kemiringan yang cukup untuk mengendalikan resiko longsor?? OSHA memberikan petunjuk untuk mengendalikanya dengan memperhatikan klasifikasi tanah dalam menentukan tingkat kemiringannya, penentuan klasifikasi tanah akan dibahas pada artikel lain. Klasifikasi tanah berupa:

Tipe  A
ini adalah tanah yang paling stabil dan terdiri dari tanah liat, berlumpur tanah liat, tanah liat lempung dan tanah liat berpasir. Ini memiliki kuat tekan  1,5 ton per kaki persegi (tsf) atau lebih. Jika adanya tanah pecah karena getaran lalu lintas disekitarnya maka tidak bisa dimasukan kedalam kelas ini. Tanah jenis ini jika adanya rembesan air akan mengurangi tingkat kesetabilannya.  Penanganan longsor pada tanah kelas A ini dengan menerapkan kemiringan 1:3/4 (1 vertikal:3/4 harizontal) atau kemiringan 53 derajat. Sebagai misal 4 meter tinggi maka bidang datarnya adalah 3 meter.

Tipe B
Adalah tanah yang terdiri dari lumpur, lempung berdebu, lempung berpasir, dan padatan kohesif butiran termasuk kerikil sudut (batu hancur). Tipe ini memiliki kekuatan yang lebih besar dari 0,5 ton per meter persegi tetapi kurang dari 1,5 ton per kaki persegi. Tanah tipe ini menerapkan rasio 1:1 atau 45 derajat.


Tipe C
Tanah yang kurang stabil. Tanah ini berjenis
pasir, kerikil, pasir lempung tanah. Jenis ini memiliki kekuatan 0,5 ton per kaki persegi
atau kurang. Tanah tipe ini menerapkan rasio 1: 11/2 atau kemiringan 34 derajat dari bidang datarnya.

Batuan Stabil
Jenis ini adalh materi mineral alam padat dapat
digali dengan sisi vertikal dan tetap utuh saat terkena.


Penerapan metode sloping biasanya untuk jenis penggalian atau pemotongan tanah pada area yang luas, selain dapat bersifat permanen juga tidak memerlukan alat tambahan yang dipasang diarea galian (trenching box). Setelah dibuat sloping, kita tetap harus memonitor kondisi tanah terutama adanya rembesan air yang masuk area atau adanya hujan.



Add comment


Security code
Refresh

Category: